Bumi Dipijak Milik Orang

Beberapa tahun kemudian penduduk Indonesia akan menumpang di negaranya sendiri. Ini merupakan ancaman yang sangat berbahaya. Suatu saat nanti Negara yang besar dan kaya sumber daya alam ini akan menjadi sejarah dan kenangan belaka. Di saat semuanya sudah habis dipakai membayar hutang Indonesia.
Pada abad kedua puluh satu ini, setelah kurang lebih enam puluh tiga tahun merdeka, Indonesia belum juga merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Bahkan yang terjadi hanyalah tekanan yang terus menerus menjajah batin penduduknya.

Sejak Indonesia mengibarkan bendera kemenangan, sejak itu pula muncul penjajahan lain. Yang datang karena belum puas dengan penjajahannya. Meskipun bentuk penjajahannya bukan lagi kekerasan fisik. Penjajahan inilah yang justru jauh lebih berbahaya, dimana Indonesia tidak dapat meraba dan merasakannya.
Penjajahan ini seakan menjadi rahasia yang tidak perlu dipertimbangkan. Dan akhirnya rahasia ini pun terbungkam saat tidak ada lagi pilihan selain membungkamnya. Saat krisis moneter mencekik leher yang memuncak pada tahun 1997-1998. Dan akhirnya Indonesia baru membuka mata, dan menyaksikan bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya belumlah tercapai.
Hingga saat ini penderitaan terus menghimpit. Angka kemiskinan dan pengangguran terus meningkat. Dan hutang negara terus bertambah. Maka jadilah penduduk terpenjara dalam sangkar sendiri, tidak dapat mengepakkan sayap untuk terbang dengan penuh kemenangan.
Seorang guru bidang studi pendidikan ekonomi di sebuah sekolah menengah pernah berkata kepada siswanya, “jangan pernah bercita-cita untuk menjadi pegawai negeri sipil, karena hal itu hanya menambah beban negara”.
Perkataanya itu bukanlah untuk merendahkan status pegawai negeri sipil. Dia hanya ingin membuka pikiran siswanya agar turut memikirkan kondisi negara saat ini. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa mereka sangat dibutuhkan oleh negara. Dan jasanya sungguh sangat tinggi. Dia hanya ingin mengajak siswanya untuk turut berpartisipasi dalam menyelesaikan problematika yang sudah kompleks dalam Negara ini.
Ironisnya, Indonesia masih dikenal sebagai Negara yang kaya akan sumber daya alam. Tapi kebanyakan penduduk tidak menyadarinya, ada yang terlena dengan keadannya yang cukup aman, ada yang tidak sempat memikirkannya saking banyaknya tugas yang harus dia selesaikan, ada yang acuh tak acuh dengan perkembangan negara yang semakin jauh menerawang ke dunia “modern” yang kebarat-baratan.
Seolah semua itu menyelimuti bisul yang ada di dalamnya, yang suatu saat pasti akan meletus. Mungkin memang kita hanya menunggu waktunya, kapan ia meletus, dan membuat kita kaget dan berteriak kesakitan. Tapi sudah terlanjur, kita memang terlanjur bisul, dan kita terlanjur tidak bisa melihatnya. Karena di depan mata kita ada yang lebih menarik untuk kita lihat; “modernisasi” dan “westernisasi” yang begitu indah wajahnya… entah sampai kapan ia bisa mempertahankan wajah cantiknya.
Mungkin pahlawan kemerdekaan kita ingin menjerit memberitahukan bahwa kita sebenarnya punya penyakit, tapi sayangnya itu hanya teriakan dalam kubur yang tidak akan mungkin terdengar oleh telinga kita yang sudah tertutupi oleh selimut independensasi, demokrasi, reformasi, HAMisasi, individualisasi, dan egoisasi.
Kita sudah lupa akan kesatuan yang telah diikrarkan oleh mereka yang telah terbaring kaku dalam liang kuburnya. Kita lupa bahwa mereka telah mengamanahkan tanah ini untuk dijaga dan dipertahankan. Dan mungkin nanti pada akhirnya kaita akan tersadar bahwa tanah yang kita tempati berpijak sekarang sudah menjadi milik orang.

Agustus 2009

0 komentar:

Posting Komentar