UF: Ya Allah... berilah kekuatan pd hambaMu yg mo plang agr ia dpt plang dgn cpt, lindungilah ia agr tb dgn slamat, brilah petunjukMu agr ia sadar bhw ssorg menantinya. Amin... 16:41 14/02/10
UF: Lihatlh ke atas, di sana ada bulan sdg mengintip...dgn pnuh tax, kpn mujahid pulang?Ia sdh dinantikn olh seorg wanita yg mrindukanx...
AF: Ya Allah trima kasih atas ptunjukMU yg mxadarkanq bhwa aq dirindukan olh seorang wanita cantik...17.00 15/2/10
AF: Ada belalang di pohon perdu, aku kan pulang jika ada yg rindu.18:29 16/02/10
AF: Pohon perdu mayangnya keriting, meski rindu sayang aku lagi meeting... mmmuah. 19:49 16/2/10
Ibu ke sawah hendak membantu ayah membajak sawah. Saat ia hendak menyalakn mesin pembajak sawa, kakix keseleo. Ayah yg ahli urut sgr mengurutx, namun sakitx makin bertambah sj.Sampai di rumah ia mlh menjerit2 kesakitan sm pahax.Lalu ia menelpon sang anak yg ada di kota untk pulang menjengukx. Segera sj sang anak yg sgt menyayangi ibux membuat rencana utk pulang.Ia minta izin pd bosx.Lalu ia pun brangkat 2 kmudian. Saat ia di kampung, ia mengabarkn pd istrix bhw ibu sdh baikn, bhkn sdh bs jalan. Alhamdulillah... Oh iya, hmpir lupa blg kl ia sdh pux istri yg sgt ia cintai. Istrix itu jg sdh hamil memasuki bln ke5... Jd wajar kl saat di kampung ia sgt merindukanx.
AF: Langit brtabur bintang, hawa sejuk, lagu binatang malam brsahutan, kata pujangga ini mlm yg indah, tp bg sy tnpa senyummu smua tak ada artix. 20:20 30/5/10
UF: Walah...walah...bukanji itu kata2 kufur??? (istrix msh ja'im)
UF: Dgn sgenap kekuatanku, ingn kukalahkn rs rindu... Tp ia mlah dtg dgn sjuta kekuatanx. Bgt kerasx ia menghentakku hingga merobohkn pertahanan jiwaku...lalu merasuk ke relung hatiku yg terdalam.. (nah ini yg jujur..tak tahan jg ia)
UF: K'bikin apaq? rinduka...
AF: Me too, aq lg mengingatmu ch... 12:26 31/5/10
sMs...
04.15 | Label: Kisah | 0 Comments
Quantum Kesabaran
Jika engkau tertimpa musibah maka bersabarlah dengan kesabaran orang yang mulia karena yang demikian itu lebih selamat. Jika engkau tertimpa kesulitan maka kenakanlah 'pakaian diam' (tahanlah kata-katamu). Karena itu lebih selamat.
Janganlah engkau mengeluh kepada manusia, sesungguhnya yang demikian itu engkau telah mengadukan Allah yang Maha Pengasih kepada manusia yang tiada memiliki kasih sayang...
Dari sebuah buku yang pernah saya baca
00.34 | Label: Renungan | 0 Comments
Kuncup-Mekar
Dulu mawar itu kuncup…
Kini mawar itu mekar
Tapi ia masih sama
Mawar kuncup berharap akan mekar
Mekar pada waktu yang tepat
Walau setelah mekar ia tak akan dapat kuncup lagi
Tapi ia masih sama,
Selalu suci dalam mekarnya...
7 Safar 1431
03.42 | Label: Puisi | 0 Comments
Ibu, Sang Penjaga "Benteng Terakhir"
Garis pertahanan depan telah koyak tercabik, prajurit penjaga pada bingung mencari arah, lawan kawan sudah tak dikenal, malah sibuk saling membabat atau malah bunuh diri. Asa kemenangan pun musnah sudah. Kalah?
Ah... belum, selagi "Benteng Terakhir” masih kokoh terjaga. Lihatlah di dalam sana masih ada prajurit-prajurit kecil, gesit dan lincah terlatih dalam kasih sayang, doa dan belaian lembut sang penjaga. Harapan masih ada selama masih ada IBU sang penjaga "Benteng Terakhir"...
22.49 | Label: Renungan | 2 Comments
Bumi Dipijak Milik Orang
Beberapa tahun kemudian penduduk Indonesia akan menumpang di negaranya sendiri. Ini merupakan ancaman yang sangat berbahaya. Suatu saat nanti Negara yang besar dan kaya sumber daya alam ini akan menjadi sejarah dan kenangan belaka. Di saat semuanya sudah habis dipakai membayar hutang Indonesia.
Pada abad kedua puluh satu ini, setelah kurang lebih enam puluh tiga tahun merdeka, Indonesia belum juga merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Bahkan yang terjadi hanyalah tekanan yang terus menerus menjajah batin penduduknya.
Sejak Indonesia mengibarkan bendera kemenangan, sejak itu pula muncul penjajahan lain. Yang datang karena belum puas dengan penjajahannya. Meskipun bentuk penjajahannya bukan lagi kekerasan fisik. Penjajahan inilah yang justru jauh lebih berbahaya, dimana Indonesia tidak dapat meraba dan merasakannya.
Penjajahan ini seakan menjadi rahasia yang tidak perlu dipertimbangkan. Dan akhirnya rahasia ini pun terbungkam saat tidak ada lagi pilihan selain membungkamnya. Saat krisis moneter mencekik leher yang memuncak pada tahun 1997-1998. Dan akhirnya Indonesia baru membuka mata, dan menyaksikan bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya belumlah tercapai.
Hingga saat ini penderitaan terus menghimpit. Angka kemiskinan dan pengangguran terus meningkat. Dan hutang negara terus bertambah. Maka jadilah penduduk terpenjara dalam sangkar sendiri, tidak dapat mengepakkan sayap untuk terbang dengan penuh kemenangan.
Seorang guru bidang studi pendidikan ekonomi di sebuah sekolah menengah pernah berkata kepada siswanya, “jangan pernah bercita-cita untuk menjadi pegawai negeri sipil, karena hal itu hanya menambah beban negara”.
Perkataanya itu bukanlah untuk merendahkan status pegawai negeri sipil. Dia hanya ingin membuka pikiran siswanya agar turut memikirkan kondisi negara saat ini. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa mereka sangat dibutuhkan oleh negara. Dan jasanya sungguh sangat tinggi. Dia hanya ingin mengajak siswanya untuk turut berpartisipasi dalam menyelesaikan problematika yang sudah kompleks dalam Negara ini.
Ironisnya, Indonesia masih dikenal sebagai Negara yang kaya akan sumber daya alam. Tapi kebanyakan penduduk tidak menyadarinya, ada yang terlena dengan keadannya yang cukup aman, ada yang tidak sempat memikirkannya saking banyaknya tugas yang harus dia selesaikan, ada yang acuh tak acuh dengan perkembangan negara yang semakin jauh menerawang ke dunia “modern” yang kebarat-baratan.
Seolah semua itu menyelimuti bisul yang ada di dalamnya, yang suatu saat pasti akan meletus. Mungkin memang kita hanya menunggu waktunya, kapan ia meletus, dan membuat kita kaget dan berteriak kesakitan. Tapi sudah terlanjur, kita memang terlanjur bisul, dan kita terlanjur tidak bisa melihatnya. Karena di depan mata kita ada yang lebih menarik untuk kita lihat; “modernisasi” dan “westernisasi” yang begitu indah wajahnya… entah sampai kapan ia bisa mempertahankan wajah cantiknya.
Mungkin pahlawan kemerdekaan kita ingin menjerit memberitahukan bahwa kita sebenarnya punya penyakit, tapi sayangnya itu hanya teriakan dalam kubur yang tidak akan mungkin terdengar oleh telinga kita yang sudah tertutupi oleh selimut independensasi, demokrasi, reformasi, HAMisasi, individualisasi, dan egoisasi.
Kita sudah lupa akan kesatuan yang telah diikrarkan oleh mereka yang telah terbaring kaku dalam liang kuburnya. Kita lupa bahwa mereka telah mengamanahkan tanah ini untuk dijaga dan dipertahankan. Dan mungkin nanti pada akhirnya kaita akan tersadar bahwa tanah yang kita tempati berpijak sekarang sudah menjadi milik orang.
Agustus 2009
20.43 | Label: Artikel | 0 Comments
Mekar-Kuncup
Mawar kuncup…
Mawar mekar
Apa bedanya???
Mawar kuncup akan mekar
Mekarkan kuncupnya pada waktu yang tepat!!!
Karena setelah mekar, ia tak akan dapat kuncup lagi
Kecuali kau memaksanya, yang akan merusaknya…
14 Jan 2010
20.42 | Label: Puisi | 0 Comments
Ibu
Senyum tulusmu melepas kepergianku
Kutak sanggup melihatnya
Bibirmu berucap satu kata…
Kan selalu kupegang kuat
Ibu, semoga do’amu
Yang jauh
Dan tulus
Selalu menyertaiku
Kini aku jauh darimu
Demi sebuah cita-cita yang tinggi
Mendapat tetesan ilmu dari lautan ilmuNya
Meraih ridhaNya
20.41 | Label: Puisi | 0 Comments
-
Bebaskan Diri dari Perbudakan Rokok11 tahun yang lalu
-
Cara Reset Canon Pixma IP198015 tahun yang lalu
-
-