Mengenang Banjir Bandang

Musibah banjir bandang yang melanda daerah pinggir kota Sinjai telah menjadi saksi perpisahan kami. Marni, Dillah, dan Taufik; tiga ponakanku harus kami lepas demi memenuhi janji mereka kepada Yang Maha Khaliq lagi Maha memenuhi janji.
Tiga orang bersaudara yang merupakan anak dari kakak pertamaku menjadi korban dari musibah tersebut. Tak ada yang menyangka, banjir yang datang dengan tiba-tiba di tengah malam yang gelap dan dingin itu, dalam waktu yang sangat singkat telah menyikat habis puluhan rumah penduduk di sana. Termasuk kakakku, mereka bertujuh di rumah panggung sederhananya, terkejut mendengar suara gaduh seakan pesawat tempur yang siap mendarat itu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mereka lakukan kecuali saling berpelukan sambil mencucurkan air mata perpisahan di antara mereka, ini sudah kiamat, pikir kakakku, inilah pertemuan terakhir mereka di dunia.


Lalu rumah sederhana itu pun sudah mulai goyah dan bergerak dari tempatnya semula akibat tertabrak rumah lain yang sudah hanyut lebih dahulu. Kepanikan semakin terasa menyelimuti mereka, hingga mereka memutuskan untuk saling membagi dan mencari jalan selamat masing-masing. Marni yang baru saja tadi siang melompat-lompat saking senangnya berhasil lulus UAN di SMK, memegang adiknya, Dillah. Lailah yang juga baru tamat SMP melakukan hal yang sama, dia memegang adiknya, Taufik. Sedang Mamanya sendiri sudah dari tadi tak mau melepas Nurul dari gendongannya, si mungil berumur dua bulan yang menggemaskan. Sedang bapaknya sudah hanyut sejak tadi, saat dia berusaha berenang demi mencari jalan terbaik menyelamatkan keluarganya.
Kini rumah itu sudah retak dan akhirnya hancur terpisah-pisahkan oleh air yang sangat deras itu. Suara teriakan meminta tolong seakan tak dapat menembus pendengaran di sela-sela gemuruhnya air yang semakin ‘ganas’ itu serta hujan yang derasnya menambah pekatnya malam itu.
Sekitar pukul enam pagi baru ada orang yang datang menyaksikan kehancuran tempat itu setelah para korban terendam air selama kurang lebih empat jam. Mereka mulai merangkak-rangkak di tengah sisa-sisa retakan rumah-rumah. Lailah yang tersangkut di rimbunan tembakau, saat melihat mereka berusaha berteriak agar mereka menolongnya. Mereka pun beranjak mendekatinya, dan alangkah terkejutnya saat orang-orang itu melihat sosok berumur dua tahun yang tak sepotong pun kain menempel di tubuhnya terbaring pasrah tak bernapas di belakang Lailah.
Siapa itu? Taufik telah menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Lailah semasih dalam bawaan arus. Lailah tak dapat mengucap banyak, di benaknya tak ada yang ia rasakan kecuali ingin menyusul adiknya yang sangat ia sayangi itu, tapi di lain sisi ia sadar bahwa ternyata Allah belum mau mengambil dirinya setelah ia menjatuhkan badannya dan tenggelam namun kembali terapung. Dan Taufik sudah dilaporkan sebagai mayat pertama yang ditemukan dalam bencana itu.
Lalu di mana Mama dan keluarga yang lain? Lailah belum tahu semua itu, sebelum akhirnya dia bertemu dengan Mamanya di rumah sakit tempat penampungan semua korban bencana itu.
Ternyata dia bersyukur masih dipertemukan oleh Allah dengan Mamanya yang berhasil berpegang di batang pohon mangga bersama si mungil yang tetap dalam gendongannya, menakjubkan! Si mungil itu ternyata masih dapat menangis setelah Mamanya mengangkat kakinya dan membalikkan kepalanya ke bawah agar air bercampur lumpur yang sudah menyebabkan perutnya kembung dapat keluar. Walaupun Marni yang tadinya memegang Dillah belum ditemukan, padahal Dillah sendiri yang berumur tiga tahun itu sudah ditemukan dalam keadaan tulang-tulangnya sudah mengeras. Dan bapaknya ditemukan tersangkut di pohon kelapa.
Mayat Marni baru ditemukan siang esok harinya. Jilbab yang dikenakannya sebelum hanyut sudah tidak ada di kepalanya. Innalillahi wainna ilahi rajiun. Saat Lailah menceritakan semua ini padaku, aku hanya dapat menundukkan kepala tak dapat mengucap sepatah kata, karena diam-diam aku kagum kepada Lailah yang mengakhiri ceritanya dengan ucapan.
“Tidak usah bersedih Tante, semua ini telah ditakdirkan oleh Allah”
Subhanallah, MasyaAllah! Mampukah aku setabah gadis belia ini? Ya Allah, berilah mereka tempat yang indah dan berilah kami ganti yang lebih baik. Jangan bersedih, bersabarlah! Bukankah Allah berjanji bersama orang-orang yang bersabar?

(Untuk Kakak dan ponakanku yang kusayangi karena Allah)

0 komentar:

Posting Komentar