Tanggal 13 Desember 2009 Allah Mempertemukan kami sebagai suami dan istri. Selesai akad, dia menemuiku di kamar, diantar oleh kakakku dan juga tantenya yang membawakan maharku; seperangkat alat shalat dan kalung emas 5 gram. Dia meraih tanganku dan menyalamiku, lalu mencium ubun-ubunku, dia pasti membaca do’a yang disunnahkan oleh Rasulullah sementara itu aku hanya menatap tangannya yang masih menggenggam tanganku… anehnya aku tidak merasakan apa-apa, padahal jauh sebelumnya sudah banyak yang memberitahukan bahwa momen seperti ini adalah momen yang paling menggetarkan bagi pengantin. Tapi ini sama sekali tidak terjadi pada diriku.
Aku berpikir dia akan mengajakku mendirikan shalat dua rakaat sebagaimana yang telah disunnahkan Rasulullah, tapi ternyata tidak. Dia malah bergegas pergi karena adzan dzuhur sudah berkumandan. Aku lupa bahwa panggilan shalat wajib itu lebih didahulukan.
Sepulang dari shalat dzuhur di mesjid, dia langsung tinggal di pelaminan pria yang terpisah dengan pelaminan wanita untuk menyambut tetamu pria. Setelah tetamu pria berkurang, aku menyuruh akhwat yang juga sudah menikah agar memanggilnya lewat suaminya untuk masuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat yang kami belum laksanakan tadi. Aku pikir ini juga tidak bisa ditunda-tunda. Selesai shalat sunnah berjama’ah, aku menyuguhkan segelas susu, kata murabbiyahku itu juga sunnah. Setelah meneguknya ia memberikan padaku sebagai isyarat bahwa dia memintaku juga meminum sisasnya. Ini semua kami lakukan tanpa saling menatap wajah satu sama lain.
Setelah kuminum sisanya, aku kembali meletakkan gelas itu di depannya sebagai tanda aku menginginkan dia meminumnya kembali karena masih tersisa banyak. Tapi apa yang terjadi, susunya tumpah karena gelasnya terseret olek rok yang kukenakan. Spontan dia berucap “eh… tumpah” sambil melirik ke wajahku seolah mencari jawabanku. Aku juga buru-buru menjawab “nda papaji…” sambil menoleh ke wajahnya. Aku jadi tersipu malu, dia juga tersenyum malu, mata kami bertemu, hanya sebentar... kilat, tapi kurasakan dadaku berdetak kencang, ada getaran yang begitu indah kurasakan…rasa yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Allahu akbar… sungguh ini rasa yang membiusku, membuatku seolah melayang… betapa dahsyatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Iinilah saat yang selalu kunanti, saat ketika aku dapat merasakan indahnya jatuh cinta… pada saat yang tepat… pada orang yang tepat, dengan cara yang tepat… agar semuanya berjalan atas ridha Allah.
LM, Lagi ngantor selasa siang 12 Jan 2010
Bebaskan Diri dari Perbudakan Rokok
11 tahun yang lalu
1 komentar:
Sweet, mata memejam, angin mendesau, hangat, melati menyerbak itulah CINTA. Hmm bukan! Cinta lebih dari itu...
Posting Komentar